Provinsi Papua yang luasnya hampir 3,5 kali Pulau Jawa memiliki potensi sumberdaya alam yang besar, di samping posisi geografis yang ada ditepian Barat cekungan pasifik serta berbatasan langsung dengan Australia, Papua New Guinea (PNG), Republik Palau. Provinsi Papua memiliki banyak kandungan sumber daya alam, baik yang tidak dapat di perbaharui (unrenewable resources) maupun yang dapat diperbaharui (renewable resorces). Kandungan potensi sumberdaya alam tersebut belum termanfaat secara optimal. Nah salah satunya adalah taman LORENTZ internasional. Taman Lorenz ini, terletak 4.884 m diatas permukaan laut, yang luasnya mencapai 2.505.600 Ha. Pada Taman Nasional LORENTZ tersebut terdapat aneka vegetasi serta lebih dari 350 jenis burung dan 101 jenis mamalia. Taman LORENTZ telah masuk terdaftar oleh Badan Peduli Lingkunagn PBB sebagai cagar alam murni yang belum sama sekali terkontaminasi oleh tangan manusia yang nakal. Taman LORENTZ menjadi bagian penting dunia karena selain kaya akan hasil-hasil tembaga, hutannya masih cukup luas dan mampu berfungsi sebagai paru-paru dunia. Wilayah ini juga memiliki keanekaragaman hayati dan meliputi 20.000-25.000 jenis tanaman berkayu, 146 jenis mamalia, 329 jenis reptil dan amphibia, 650 jenis burung, lebih 1.200 jenis ikan laut, 150.000 jenis serangga, dan masih banyak lagi jenis-jenis tumbuhan dan hewan lainnya, sehingga dari segi biologi dan pelestarianPapua telah menjadi bagian penting situs dunia.
SUKU NDUGA SEBAGAI PEMILIK TAMAN LORENTZ
Salah satu suku dari sekian banyak suku yang mendiami daerah/wilayah teman lorenz nasional adalah suku Nduga. Pada dasarnya suku ini hidupnya bertani dengan berpindah-pindah lahan. Namun biasanya suku ini tidak berpindah terlalu jauh untuk bertani. Suku-suku kerabat dari suku Nduga adalah Suku Amungme (orang Nduga yang berbahasa dua Amung-Nduga) biasanya disebut Amung Tau yang artinya Amungme Nduga, yang berikut yaitu suku Dani (barat, timur) Suku Moni dan suku Ngalik. Suku ini cukup ramah dan baik, akan tetapi jangan coba-c0ba untuk mengganggu ketentraman dan keramahan mereka, tentunya hal seperti ini akan memicu kemarahan mereka sehingga berakibat fatal. Walaupun hidup di tengah-tengah keragaman hayati yang dilindungi oleh salah satu badan PBB bagian lingkungan hidup, namun masyarakat di (Mapnduma) central dimana masyarakat suku Nduga secara keseluruhan tidak pernah menikmati hasil dari kekayaan mereka sendiri. Artinya jika Taman itu dilindungi tentu saja ada kompensasi atau bantuan bagi masyarakat yang ada di daerah tersebut oleh PBB maupun Indonesia, namun hal seperti itu saja tidak ada sehingga masyarakat di tempat ini hidup dibawah garis kemiskinan.Walaupun demikian ada berbagai upaya kesejahteraan yang dilakukan oleh anak-anak daerah sendiri, sedikit demi sedikit, membuka lowongan untuk masyarakat menikmati sebagaimana semestinya, dengan membuka lapangan terbang dan dengan mendatangkan sedikit bantuan kesehatan dan pendidikan.Walaupun demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa masyarakat Nduga menikmati hidup yang layak secara khusus dan pada umumnya masyarakat Papua. Mengapa masyakarat Papua meminta "M" (Merdeka)? Alasannya hanya satu yaitu karena tidak adanya perhatian serius Pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua di segala bidang sebagaimana yang dilakukan di Jawa dan daerah-daerah lain. Bayangkan sejak bergabung dengan RI sampai sekarang, masyarakat Papua masih sangat terbelakang tidak pernah menikmati hasil kekayaan yang dikeruk pemerintah pusat dan orang Papua juga yang pro pemerintah pusat. Alasan-alasan seperti itulah yang membuat mayoritas masyarakat Papua ingin memisahkan diri dari NKRI. Secara logis, saya pikir wajar, sebab masyarakat masih masih banyak yang telanjang, tak berpendidikan, tingkat kesehatan yang rendah, tingkat gizi yang kurang memadai,, dan berbagai persoalan lainnya. Tentunya ini merupakan suatu diskriminasi pembangunan dan ketidak seriusan pemeruintah untuk meningkatkan taraf hidup manusia Papua dalam sektor ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan dan berbagai program pemberdayaan lainnya. Sampai kapan pemerintah akan terus menindas masyarakatnya sendiri, ibarat pepatah yang mengatakan bahwa "pagar makan tanaman" demikianlah pemerintah Indonesia sesungguhnya di mata masyarakatnya sendiri.Kembali kepada masyarakat Nduga, mungkin menurut saya suku yang sangat kecil dari sekian banyak suku yang ada di Papua, merupkan masyarakat yang rata-tara hidupnya di bawah garis kemiskinan. Makanan sehari-harinya adalah ubi jalar dan sayur. walaupun demikian masyarakat hidupnya damai. Kebanyakan dari masyarakat Nduga, sudah banyak yang pindah tempat tinggal ke kota seperti Timika, Wamena, Jayapura dan Nabire dan beberapa daerah di Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar